Game Theory model “Dilema Tahanan” (Prisoner’s
Dilemma)
Dalam
memahami perilaku negara atau pembuat keputusan dalam menjalankan kebijakan
luar negeri dalam situasi konflik internasional dikenal sebuah metafora dalam
ilmu hubungan internasional yang dikenal sebagai Game Theory. Game Theory
diasumsikan seperti halnya permainan catur atau poker yang membutuhkan strategi
demi mencapai kemenangan dan dari sanalah dapat terlihat bagaimana proses
penalaran berlangsung dalam pembuatan keputusan.[1]
Seorang pemimpin dalam membuat keputusan (decisions
making) tentunya memerlukan pemikiran yang mendalam demi tercapainya
kepentingan nasional serta meminimalisir kerugian yang akan diterima. Game
Theory dikenal sebagai strategi yang dilakukan negara-negara dalam
mempertahankan kekuatan negaranya ketika terjadi konflik.
Begitu
juga yang akan dilakukan oleh Jerman ketika mengubah kebijakan luar negerinya,
tidak hanya lingkungan eksternal yang mendorong atau mempengaruhi kebijakannya.
Namun pemikiran rasional telah melandasi pembuat kebijakan untuk memilih jalan
keluar yang terbaik. Dalam Game Theory terdapat dua asumsi yang melandasi,
pertama, bahwa aktor berperilaku rasional yaitu memilih strategi atas dasar
pertimbangan untung-rugi dalam pencapaian tujuan yang jelas. Akan tetapi tidak
semua melakukan keputusan pertimbangan moral dan hal emosional. Akan tetapi
para aktor dianggap telah mengetahui semua kemungkinan situasi yang dihadapi
untuk menjabarkan urutan-urutan prioritas tujuan-tujuan yang hendak dicapai
dari semua kemungkinan sumber daya yang dimiliki. Asumsi kedua adalah bahwa
para pemain memiliki kepentingan yang bertentangan walaupun hanya sebagian.
Dalam
kajian ilmu politik, Game Theory efektif digunakan dalam menentukan strategi
maupun kebijakan yang berkaitan dengan kepentingan nasional suatu negara. Perkembangan
aktor di dalam sistem internasional yang tidak hanya didominasi oleh aktor
negara dan individu menjadikan Game Theory sebagai teori aplikatif dalam
pengambilan kebijakan secara ekonomi dan politik bagi aktor aktor hubungan
internasional. Sedangkan untuk menjelaskan posisi Jerman dalam hal ini model
Game Theory jenis Prisoner’s Dilemma lebih dapat merepresentasikannya, dimana pada
awalnya ia ditempatkan pada situasi jalan buntu (deadlock).
Hal
ini terlihat pada awalnya belum terdapat inisiasi kerjasama antara
negara-negara di Eropa Barat (terlepas dari badan utama dari Uni Eropa) untuk
secara langsung turut memberikan bantuan krisis finansial Yunani. Untuk itu
dalam situasi yang tidak adanya sikap saling pecaya maka analogi perilaku
“dilema tahanan” dapat diaplikasikan, dimana Jerman merasakan dilema akibat
ketidaksesuaian antara kepentingan individual dan kepentingan kolektif.[2]
Keadaan ini terjadi karena adanya kondisi anarki dalam hubungan sosial antar
negara. Namun begitu kenyataannya adalah bahwa kerjasama antar negara tetap
sangat dibutuhkan untuk terus berlangsung. Hal ini karena pemikiran rasional
yang melandasi inti dari pembuatan kebijakan yang meliputi segala sisi internal
maupun eksternal.
Model
Prisoner’s Dillema (Dilema Tahanan)
digambarkan dengan skema berikut ini:
[1] Uraian
ini didasakan pada tulisan Anatol Rapoport, Fights,
Games and Debates (Univ. Of Michigan, 1960), Anatol Rapoport,
“International Relations and Game Theory”, dalam Frank Barnaby dan Carlo
Schaerf Eds), Disarmament and Arms
Control (Gordon and Breach, 1972); dan Robert J. Lieber, Theory and World Politics (Winthrop,
1972).
[2] Mohtar
Mas’oed. 1990. “Ilmu Hubungan Internasional: Disiplin dan Metodologi edisi
revisi”. Jakarta: LP3ES. Hal. 246-255.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar