Jumat, 20 Juli 2012

game theory international relations


Game Theory model “Dilema Tahanan” (Prisoner’s Dilemma)
            Dalam memahami perilaku negara atau pembuat keputusan dalam menjalankan kebijakan luar negeri dalam situasi konflik internasional dikenal sebuah metafora dalam ilmu hubungan internasional yang dikenal sebagai Game Theory. Game Theory diasumsikan seperti halnya permainan catur atau poker yang membutuhkan strategi demi mencapai kemenangan dan dari sanalah dapat terlihat bagaimana proses penalaran berlangsung dalam pembuatan keputusan.[1] Seorang pemimpin dalam membuat keputusan (decisions making) tentunya memerlukan pemikiran yang mendalam demi tercapainya kepentingan nasional serta meminimalisir kerugian yang akan diterima. Game Theory dikenal sebagai strategi yang dilakukan negara-negara dalam mempertahankan kekuatan negaranya ketika terjadi konflik.
            Begitu juga yang akan dilakukan oleh Jerman ketika mengubah kebijakan luar negerinya, tidak hanya lingkungan eksternal yang mendorong atau mempengaruhi kebijakannya. Namun pemikiran rasional telah melandasi pembuat kebijakan untuk memilih jalan keluar yang terbaik. Dalam Game Theory terdapat dua asumsi yang melandasi, pertama, bahwa aktor berperilaku rasional yaitu memilih strategi atas dasar pertimbangan untung-rugi dalam pencapaian tujuan yang jelas. Akan tetapi tidak semua melakukan keputusan pertimbangan moral dan hal emosional. Akan tetapi para aktor dianggap telah mengetahui semua kemungkinan situasi yang dihadapi untuk menjabarkan urutan-urutan prioritas tujuan-tujuan yang hendak dicapai dari semua kemungkinan sumber daya yang dimiliki. Asumsi kedua adalah bahwa para pemain memiliki kepentingan yang bertentangan walaupun hanya sebagian.
            Dalam kajian ilmu politik, Game Theory efektif digunakan dalam menentukan strategi maupun kebijakan yang berkaitan dengan kepentingan nasional suatu negara. Perkembangan aktor di dalam sistem internasional yang tidak hanya didominasi oleh aktor negara dan individu menjadikan Game Theory sebagai teori aplikatif dalam pengambilan kebijakan secara ekonomi dan politik bagi aktor aktor hubungan internasional. Sedangkan untuk menjelaskan posisi Jerman dalam hal ini model Game Theory jenis  Prisoner’s Dilemma lebih dapat merepresentasikannya, dimana pada awalnya ia ditempatkan pada situasi jalan buntu (deadlock).
            Hal ini terlihat pada awalnya belum terdapat inisiasi kerjasama antara negara-negara di Eropa Barat (terlepas dari badan utama dari Uni Eropa) untuk secara langsung turut memberikan bantuan krisis finansial Yunani. Untuk itu dalam situasi yang tidak adanya sikap saling pecaya maka analogi perilaku “dilema tahanan” dapat diaplikasikan, dimana Jerman merasakan dilema akibat ketidaksesuaian antara kepentingan individual dan kepentingan kolektif.[2] Keadaan ini terjadi karena adanya kondisi anarki dalam hubungan sosial antar negara. Namun begitu kenyataannya adalah bahwa kerjasama antar negara tetap sangat dibutuhkan untuk terus berlangsung. Hal ini karena pemikiran rasional yang melandasi inti dari pembuatan kebijakan yang meliputi segala sisi internal maupun eksternal.
            Model Prisoner’s Dillema (Dilema Tahanan) digambarkan dengan skema berikut ini:



[1] Uraian ini didasakan pada tulisan Anatol Rapoport, Fights, Games and Debates (Univ. Of Michigan, 1960), Anatol Rapoport, “International Relations and Game Theory”, dalam Frank Barnaby dan Carlo Schaerf Eds), Disarmament and Arms Control (Gordon and Breach, 1972); dan Robert J. Lieber, Theory and World Politics (Winthrop, 1972).
[2] Mohtar Mas’oed. 1990. “Ilmu Hubungan Internasional: Disiplin dan Metodologi edisi revisi”. Jakarta: LP3ES. Hal. 246-255.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar